David Bowie, Glam Rock King Genius

Perjalanan David Bowie dari masa ke masa
Seniman cerdas asal Inggris yang mengubah sejarah rock n’ roll.
Musisi multi-karakter ini kembali bangkit.

Jutaan perasaan tak tergambarkan muncul sejak Januari lalu, ketika sosok raja glam rock David Bowie muncul dengan single terbaru sejak vakum selama 10 tahun. Lagu berjudul Where Are We Now? Menjadi pelepas rindu jutaan fans Bowie yang terakhir kali mengeluarkan album pada tahun 2003 silam.

Bowie dan karakternya

David Bowie lahir dengan nama David Robert Jones pada 8 Januari 1947. Ia mulai mengenal dan tertarik pada musik sebelum usia 12 tahun, dan instrument pertamanya adalah saxophone. Ia bersahabat dengan George Underwood sejak kecil, yang banyak mengerjakan beberapa artwork untuk cover album Bowie. Meskipun mereka cukup dekat, ternyata Underwood pernah memukul Bowie karena seorang wanita. Pukulan ini membuat salah satu pupil mata Bowie membesar secara permanen.

The little Ziggy Stardust.

Sumber: tumblr.com

Ia terinspirasi membuat track untuk kakaknya yang bernama Terry, yang telah mengenalkannya pada musik rock sejak ia masih kecil. Walupun Terry bisa dibilang adalah sosok yang brilian, namun ternyata Terry memiliki sosok gelap dalam dirinya. Pada 1985, Terry mengakhiri hidupnya dengan bunuh diri, dan Bowie terinspirasi untuk membuat lagu berjudul Jump They Say yang dirilis pada 1993.

Bowie mulai dikenal publik sejak melepas lagu Space Oddity yang merambah ke jejeran lima besar di chart UK tahun 1969. Sebelum itu, Bowie harus berkelana dalam waktu yang sangat lama untuk dikenal banyak orang. Ia bermain dalam banyak banyak pada 1960an. Setelah era Space Oddity datang,  David Bowie dikenal sebagai salah satu jagoan dalam genre psychedelic folk yang cukup digemari banyak orang. Lagu ini benar-benar mengubah hidupnya, karena momen perilisannya yang istimewa. Space Oddity digunakan sebagai tema lagu momen bersejarah ketika Apollo 11 mendarat di bulan. Setelah itu, lagu seperti Memory of a Free Festival menjadi hits, bahkan track The Man Who Sold The World menjadi salah satu track favorit yang dibawakan Nirvana pada acara musik bertema kematian MTV Unplugged.

Nirvana membawakan The Man Who Sold The World di konser Unplugged mereka yang fenomenal.

Sumber: elpatas.net

Era berikutnya adalah sejarah besar bagi Bowie dan musik rock n’ roll. Ia berhasil mengenalkan musik yang dianggap tidak baik ini pada kalangan atas dengan memakai identitas sebagai Ziggy Stardust. 10 Februari 1972 adalah pengenalan era baru David Bowie ketika ia menaiki panggung bersama The Spiders From Mars, band yang dibentuk untuk keperluan tur. Bowie menginvasi rock n’ roll ala Ziggy Stardust yang glamour dengan rambut berwarna terang dan dianggap sebagai era ketika pandangan seluruh kalangan tentang musik rock berubah total. Ziggy Stardust dikenal sering menampilkan live show spektakuler yang membekas kuat pada ingatan banyak orang. Pada 1972 ia juga sempat bergabung dengan project Lou Reed yang merilis album Transformer. Hubungannya dengan Lou Reed sempat dikabarkan miring ketika mereka berdua mengaku bisexual. Namun Bowie membantah bahwa mereka tidak tertarik satu sama lain. Namun mereka harus berpisah ketika kedua musisi ini terlibat pertengkaran hebat di London pada 1979. Kejadian ini masih belum jelas sebabnya, namun terungkap bahwa Reed lah yang menyerang Bowie dengan brutal. Namun mereka tampak kembali bersahabat setelah kejadian itu berlalu.

Ziggy Stardust adalah game changer dunia musik rock n’ roll.

Sumber: vam.ac.uk

Bowie mulai bosan ketika orang-orang mengidentikannya dengan Ziggy Stardust, sehingga pada 1974 ia mulai merubah karakternya dan diawali dengan perilisan album Diamond Dogs yang terkenal dengan single Rebel Rebel. Semuanya berubah total ketika Bowie merilis album Station to Station, dan kemudian ia tampil dengan kemeja putih dengan celana dan rompi hitam dengan nama Thin White Duke. Rambutnya pun tidak lagi berwarna terang seperti Ziggy Stardust. Karakter Duke membawa Bowie sebagai pecandu kokain. Bahkan bisa dibilang cukup parah, karena Bowie mengaku hampir tidak ingat ketika ia memproduksi Station to Station. Hal ini membuatnya  pindah ke beberapa kota seperti Paris dan kemudian Berlin, tempat ia menulis album trilogi Low, Heroes dan Lodger.

Kerjasama Bowie dengan Iggy Pop

Lahirnya album trilogy Bowie di Berlin.
Bowie tidak hanya gemar dalam bermusik, ia juga hobi melukis.

Berlin adalah tempat dimana Bowie melampiaskan seluruh bakatnya di luar musik. Sejak tinggal di kota ini, konsumsi kokain Bowie semakin bertambah. Di kota ini ia bertemu Iggy Pop, yang juga pecandu kokain. Pop memulai kerjasamanya bersama Bowie dengan mengikuti tur album Station to Station. Pop mengaku kagum dengan profesionalitas Bowie dalam menaklukkan panggung besar, walaupun ia seorang pecandu kokain. Bowie dan Pop menulis beberapa lagu bersama, termasuk untuk pengenalan album solo Pop yang berjudul The Idiot dan Lust for Life. Bowie juga semakin kreatif dengan merambah ke dunia seni lain seperti melukis. Bowie banyak berkutat dengan museum seni seperti Brucke Museum di Berlin dan banyak galeri seni di Geneva. Akhir 1976, Bowie kembali berfokus untuk membersihkan karir musiknya dari kokain. Hal serupa juga dilakukan Iggy Pop. Bowie bekerjasama dengan Brian Eno dan Berlin menjadi saksi briliannya Bowie yang waktu itu membuat beebrapa track andalan seperti Sound and Vision.

Bowie, Iggy Pop dan Lou Reed dalam sebuah pesta di London.

Sumber: anthonylukephotography.blogspot.com

MTV mulai menjadi hal baru dalam dunia musik pada 1983. Hal ini berpengaruh pada banyak musisi termasuk Bowie. Ia merilis album Let’s Dance dan tampil dengan lagu-lagu seperti Let’s Dance, Modern Love dan China Girl. Pada album ini Bowie berkolaborasi dengan gitaris Stevie Ray Vaughan yang membuat ketiga hits ini mengisi chart MTV dalam waktu yang cukup lama. Beberapa tahun kemudian, album lain berjudul Never Let Me Down menyusul. Namun album ini tidak banyak mendapat respon positif dan dianggap sebagai album gagal. Dua tahun kemudian, Bowie membalasnya dengan merilis Tin Machine pada 1989.

Kekuatan David Bowie nampaknya mulai tidak terlihat pada 1990-an. No shit, ini adalah tahun yang sulit bagi banyak musisi 70an dan 80an terutama para guitar heroes. Era 90an dikuasai penuh oleh Kurt Cobain yang mengenalkan musik grunge ke seluruh dunia, disusul dengan banyak band lain yang mengembangkan genre ini ke jalur lain seperti alternative.

Comeback dan album The Next Day


David Bowie – Where are we now

Tahun-tahun berikutnya diisi dengan beberapa album oleh Bowie. Yang terakhir adalah Reality, yang dirilis pada 2003. Setelah itu, Bowie menghilang dan tidak tampil di panggung besar selama enam tahun setelah itu. Awal 2013, ia muncul di saat yang tepat, pada ulang tahunnya yang ke-66 dengan merilis single Where Are We Now?.

Bowie menyebut Where Are We Now? sebagai renungan. Lagu ini seperti refleksi kejadian 9/11, namun bukan tentang kematian dan kehancuran melainkan tentang hilangnya jiwa seseorang. Ia juga menyimpulkan bahwa Where Are We Now? adalah lagu yang tepat untuk dimainkan ketika hujan turun. Single berikutnya untuk album The Next Day adalah The Stars (Are Out Tonight). Dalam video klip lagu ini, Bowie tampil bersama aktris Tilda Swinton.

The Next Day dirilis bulan ini, namun tanggal perilisan di seluruh negara berbeda. Di Australia, album ini telah dapat dinikmati sejak tanggal 8 lalu. Di situs iTunes, album ini telah ramai di-download dan menjadi nomor satu di banyak negara. Yang jelas, perilisan album The Next Day bisa dibilang adalah biggest comeback of the decade.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s